Thursday, February 6, 2014

Makalah menghargai waktu dalam islam

BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Karena ilmu merupakan jalan menuju surga, maka ilmu mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Karena itu orang-orang yang berilmu menempati kedudukan yang tinggi disisi Allah swt, bahkan mendekati kedudukan para Nabi. Semua muslim diwajibkan menuntut ilmu agar aqidahnya tidak tersesat, ibadahnya benar, dan perilakunya sesuai syari’at.
Menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam selama hayat masih dikandung badan. Untuk menunjukkan kesungguhan dalam memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu. Sikap disiplin mutlak diperlukan dalam meraih cita-cita.
Dalam kehidupan seororang muslim, waktu merupakan karunia yang tidak bisa terbelih dibandingkan harta dan yang lainnya. Mengoptimalkan waktu untuk ketaatan kepada Allah swt, merupakan modal kemanfa’atan kehidupan dunia dan akhirat sehingga mewujudkan keselamatan bagi dirinya. Menyia-nyiakan waktu dengan membiarkannya berlalau tanpa makna, berarti kesengsaraan dan kebinasaan bagi dirinya. Kita harus berusaha untuk memenafaatkan waktu sebaik-baiknya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kandungan hadist tentang menuntut ilmu?
2.      Bagaimana kandungan hadist tentang menghargai waktu?
3.      Bagaimana penerapan kandungan hadist tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui kandungan hadist tentang menuntut ilmu
2.      Untuk mengetahui kandungan hadist tentang menghargai waktu
3.      Untuk mengetahui penerapan kandungan hadist tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Anjuran menuntut ilmu
عن معاوية بن ابي سفيان قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من يرد الله خيرا يفقهه في الدين.
Dari Mu’awiyah Bin Abu Sufyan, dia berkata : Rasulullah SAW berkata, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya niscaya Allah pahamkan dia dalam agamanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Yufaqqihhu : artinya memahamkannya. Al-Fiqh  asalnya adalah pemahaman. Dikatakan faqiha ar-rajulu dengan mengksrah artinya paham dan mengetahui. Dan faquha yafquhu dengan mendhomah jika menjadi seorang yang faqih dan alim. Menurut urf (kebiasaan) ialah khusus berkenaan dengan ilmu syari’at dan dikhususkan dengan ilmu cabang darinya.
Hadits Riwayat Ibnu Abdil Bar[1]
عن انس رضي الله عنه ان النبي صلي الله عليه وسلم قال : اطلبواالعلم ولوبالصين فان طلب العلم فريضة علي كل مسلم ان الملا ئكة تضع اجنحتها لطالب العلم رضابما يطلب
Artinya :
Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut.” (H.R. Ibnu Abdil Bar)
Hadits di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi siapa saja sekalipun di tempat yang jauh, dan malaikat turut senang dan hormat kepada mereka.
Islam sangat memperhatikan dan ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya, berprestasi dan mampu tampil  sebagai kholifah yaitu memakmurkan bumi. Dengan ilmu, manusia mampu beribadah dengan sempurna. Contoh orang Islam diwajibkan shalat, maka ia harus mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan shalat, begitu juga dengan puasa, zakat dan haji, sehingga apa yang dilakukannya mempunyai dasar. Ilmu itu dibutuhkan dalam segala hal. [2]
و عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنه.
Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudhka baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu.“selanjutnya Abu darda menceritakan hadis ini. Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya.
Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya. Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya. Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan. Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.
و عن ابي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له.
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “jika seorang anak adam meninggal dunia, maka amal perbuatannya terputus kecuali tiga hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, Ibnu Majahdan dari Ibnu khuzaimah dari sanad yang lain)
Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih. Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya. Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah. Disunahkan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman. Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.[3]
Manfaat menuntut ilmu
Menuntut ilmu diperintahkan dalam Islam. Hal ini membawa manfaat bagi orang yang menuntutnya. Adapun manfaat menuntut ilmu antara lain sebagai berikut:
a.       Orang yang mencari ilmu mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad dijalan Allah hal ini berdasarkan hadis rasulullah:
عن انس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : خرج في طلب العلم كان فى سبيل الله حتى يرجع
          Dari Anas r.a rasulullah SAW bersabda, ” orang yang keluar mencari ilmu, maka ia berada dijalan Allah hingga ia kembali kerumahnya.” (HR. Tirmidzi)
b.      Orang yang menuntut ilmu akan mendapat kebaikan yang berlipat ganda. Orang yang menuntut ilmu diumpamakan lebih baik derajatnya dari pada orang yang melakukan sholat seratus rakaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw berikut,
وعن ابي ذر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا أبا ذر لأن تغدو فتتعلم آية من كتاب الله خير لك من ان تصلي مائة ركعة, و لأن تغذو فتتعلم بابا من العلم عمل به أو لم يعمل به خير لك من أن تصلي ألف ركعة.
Dari abu Dzar, dai berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzar, kamu berangkat dipagi hari lalu mempelajari satu ayat dari kitabullah, lebih baik bagimu dari pada kamu melakuka sholat seratus roka’at dan kamu berakat dipagi hari, lalu mengajarkan salah sati bab dari ilmu, baik diamalkan atau tidak, lebih baik darimu dari pada kamu melakukan sholat seratus roka’at.” (HR. Ibnu Majah) dan sanadnya hasan. [4]
عن ابن مسعود رضي الله عنه: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : نضر الله امرأ سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه, فرب مبلغ أوعى من سمع.
            Dari Ibnu Mas’ud r.a. aku mendengan Rasulullah SAW bersabda, “semoga Allah memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikanya sebagaimana yang ia dengar. Berapa banya orag yag disampaikan lebih memahami dari yang mendengar.” (HR. Abu Daud) serta dinilai Shahih oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dan lafadznya.  “Semoga Allah merahmati.”
عن انس بن ملك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم, وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجواهر و اللؤلؤ والذهب.
            Dari Anas Bin Malik r.a. dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan orang yang memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengikatkan batu permata, mutiara dan emas pada babi.” (HR. Ibnu Majah)
وعن ابن عباس رضي الله عنهما: قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من جاء أجله وهو يطلب العلم لقي الله لم يكن بينه و بين النبيين إلا دراجة النبوة.
Dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata: Rasulullah bersabda, barang siapa yang ajal datang menjemputnyasementara dia sedang menuntut ilmu, maka dia akan bertemu dengan Allah dan tidak ada di antara dirinya dan para Nabi kecuali derajat kenabian.”(HR. Ath-Thabrani) didalam al-ausath.
و عن سهل بن معاد بن أناس, عن أبيه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من علم علما فله أجر من عمل به لا ينقص من أجر العامل شيء.
Dari Sahal Bin Mu’adz bin Anas dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang engajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.”(HR. Ibnu Majah)
وعن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : الدنيا ملعونة و ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالما ومتعلما
Dari Abu Hurairah, dia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah terlaknat dan terlaknat sesuatu yang ada didalamnya, kecuali berdzikir kepada Allah dan yang mengikutunya, serta orang yag alim dan orang yang mau belajar.” (HR. At-Tirmidzi) dan dia menghasankan serta diriwayatkan ibnu majah.[5]
Keutamaan Menuntut Ilmu
Ø  Ilmu didahulukan sebelum amal
Ø  Ditunjukkan dan dimudahkan untuk meniti jalan mehuju surga
Ø  Merupakan tanda bahwa seseorang dikehendaki atasnya kebaikan oleh Allah
Ø  Malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena ridho kepada penuntut ilmu
Ø  Dimintakan ampunan oleh seluruh penduduk langit dan bumi, bhakan ikan-ikan dilautan
Ø  Ulama’ (orang-orang yang ber ilmu) adalah pewari para nabi
Ø  Para nabi hanya mewariskan ilmu tiada yang lain
Ø  Barang siapa yang mengambil ilmu berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.[6]
B.     Hadits tentang menghargai waktu
عن ابن عبس رضي الله عنه قال: رسول الله صلي الله عليه وسلم قال: ﺇﻏﺗﻨﻢ ﺧﻤﺴﺎ ﻘﺒﻞ ﺧﻤﺲ؛ ﺤﻴﺎﺗﻚ ﻘﺒﻞ ﻤﻮﺗﻚ٬ ﻮﺼﺤﺗﻚ ﻘﺒﻞ ﺴﻘﻤﻚ ٬ﻮﻔﺮﺍﻏﻚ ﻘﺒﻞ ﺷﻐﻠﻚ ٬ﻮﺷﺒﺎﺒﻚ ﻘﺒﻞﻫﺮﻤﻚ٬ ﻮﻏﻨﺎﻚ ﻘﺒﻞ ﻓﻘﺮﻚ
Artinya:
Dari ibnu Abas r.a. berkata rasulullah saw, bersabda: “memanfaatkan lima keadaan sebelum datangnya lima; masa hidup sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa muda sebelum masa tuamu dan masa kayamu sebelum masa fakirmu”
Penjelasan Hadis:
Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu masa muda hendaklah dipergunakan sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan, kesuksesan, dan keberhasilan, karena masa mudalah kita mempunyai ambisi, keinginan dan cita-cita yang ingin kita raih, bukan berarti masa tua menghalangi kita untuk tetap berusaha mencapai keinginan kita, tapi tentulah usaha masa tua akan berbeda halnya dengan usaha saat kita masih muda. Maka dari itu masa muda hendaklah diisi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat hingga tidak menyesal di kemudian hari.
Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Disini kita dianjurkan untuk menghargai waktu, agar bisa diisi dengan hal-hal yang bermanfaaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Misalnya, menengok saudara ketika ada kesempatan sebelum kesibukan menghampiri kita, hingga tidak sempat lagi untuk sekedar mengunjungi kerabat, atau segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, sebelum datang pekerjaan yang lain, agar tidak bertumpuk terus dan justru mebuat kita semakina malas.
Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Sehat adalah sebuah Anugerah, lihatlah ke Rumah Sakit, berapa banyak orang harus tertahan aktifitasnya karena sakit. Berapa banyak biaya yang harus di keluarkan untuk mendapatkan kesembuhannya. Hal ini juga anjuran agar kita senantiasa waspada pada segala kemungkinan yang sifatnya diluar prediksi manusia, seperti halnya sakit. Sakit disini bukan sebatas sakit jasmani, tapi juga sakit rohani. Maka ketika
kita sehat jasmani-rohani, hendaknya kita senantiasa mempergunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat tanpa mengulur-ngulur waktu. Ingatlah bahwa sehat adalah modal yang paling berharga.
Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu. Tidak terlalu jauh berbeda dari penjelasan di atas, ketika kekayaan ada pada kita, baik itu berupa materi atau lainnya, maka hendaknya kita memanfaatkannya sebaik-baiknya, jangan menghambur-hamburkan. Pergunakan untuk kemaslahatan, sodaqoh , zakat infaknya jangan ketinggalan. Dan Jadikan kekayaan kita sebagai faktor pendorong sekaligus pelancar kita dalam beribadah kepada Alloh.
Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu yang terakhir ini merupakan cakupan dari empat hal diatas. Ketika kita diberi kehidupan maka hidup yang diberikan pada kita itu sebenarnya merupakan kesempatan yang tiada duanya. Karena kesempatan hidup tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kehidupan harus dijalani sesuai tuntutan kemaslahatannya. Lima hal itu merupakan inti misi dan visi hidup manusia, karena kunci kesuksesan itu terletak pada bagaimana kita “mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya”.[7]
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, mari kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
Dalam al qur’an juga disebutkan dalam Surah Al-Ashr
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ  
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” ( QS Al Ashr :1)
Manusia dan keturunannya itu pasti merugi dalam amal perbuatan mereka, kecuali orang-orang yang meyakini keberadaan Allah dan keesaan-Nya secara benar. Mereka juga meyakini kitab-kitab yang Allah turunkan kepada para Rasul mulia. Mereka kemudian melaksanakan amal saleh yang diridhai Allah. Selain itu, diantara mereka saling berwasiat dengan kesabaran untuk tidak bermaksiat (yang dirasa ringan oleh jiwa yang lemah) dan kesabaran untuk melaksanakan ketaatan (yang dirasa berat dalam melaksanakannya oleh jiwa yang kuat). Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung dan menang.[8]
Al-Qur’an mengaitkan dengan sangat erat antara waktu dan kerja keras, antara lai, melalui surah Al-“ashr. Disisi lain istilah-istilah yang digunakannya untuk menunjuk waktu (masa) mengandung makna-makna yang sangat mendalam dalam memantapkan budaya kerja yang didambakannya.
Paling tidak ada empat kata yang digunakannya untuk menunjuk pada waktu. Pertama, “ashr. Kata ini biasa diartikan dengan “waktu menjelang terbenamnya matahari”, dan diartkan pula sebagai “masa secara mutlak”. Kata ‘ashr sendiri bermakna “perasaan”, seakan-akan masa harus digunakan untuk memeras pikiran dan keringat, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja dan sepanjag masa.
Waqt (waktu), digunakan dalam arti “batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa oleh karena itu, sering kali Al-Qur’an menggunakannya dalam konteks kadar tertentu dari satu masa. Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban atas orang-orang mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS Al-Nisa’ 4 :103)
Kata ini memberi kesan keharusan adanya pembagian teknis tentang masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya), di samping keharusan adanya penyelesaian sesuatu dalam bagian-bagian tersebut, dan tidak membiyarkannya berlalu hampa. “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak esok hari, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.
Apabila ada dua alternative untuk melakukan satu diantara dua perkerjaan yang sama dan memiliki nilai yang sama pula, maka hendaknya dipilih pekerjaan yang memakan waktu lebih singkat. Ketika Nabi Sulaiman a.s. bermaksud mendatangkan singgasana Ratu Bilqis dan menanyakan siapa yang mampu untuk itu, seorang jin jenius berkata, “Aku mampu mendatangkannya sebelum engkau beranjak dari tempat dudukmu, “dan seorang manusia yang diberi ilmu oleh Allah swt. berkata, “Aku mampu menghadirkan singgasana itu sebelum tuan mengejapkan mata.” Tentu saja tawaran terakhir inilah yang terpilih (QS. An-Naml 27: 38-40). Disisi lain, apabila ada perkerjaan yang mengandung niali tambah dan dapat diselesaikan dalam waktu yang sama tanpa nilai tambah, maka pilihlah pekerjaan yang memiliki nilai tambah. Karena itu, sholat jama’ah jauh lebih dianjurkan dari pada sholat sendirian, karena waktu yang digunakan untuk kedua sholat sama atau tidak jauh berbeda, tetapi nilai tambah.[9]
C.    Penerapan Kandungan Hadis Tentang Menuntut Ilmu Dan Menghargai Waktu Dalam Kehidupan Sehari-Hari.
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1.      Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2.      Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah
3.      Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta
4.      Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu
5.      Rajin menghadiri majelis ilmu
6.      Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan
7.      Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan
8.      Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
a.       Dengan mununtut ilmu kita dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haram dan mana yang halal, sehingga menjadi bekal kita di akherat. Dunia bagaikan ladang. Yang hasilnya akan kita petik di akherat kelak. disunahkan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman. Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
b.      Kita tidak boleh zhalim terhadap diri sendiri dengan menyia-nyiakan waktu, usia dan kehidupan kita. Jangan sampai kita salah langkah dalam menghabiskan usia. Jangan sampai kita lebih suka bersenang-senag dan bermalas-malasan, melalaikan sesuatu yang lebih mulia dan berharga. Setiap kali usaha bertambah, tanggung jawab setiap kita juga bertambah. Hubungan dan relasi bertambah, waktu berkurang dan kekuatan melemah. Waktu yang kita miliki di usia tua menjadi semakin sempit, tubuh melemah dan kesehatan berkurang. Ketika kita mulai tidak berdaya kesibukan yang dimiliki semakin bertambah.
c.       Dalam penerapan menuntut ilmu dan menghargai waktu itu saling berkaitan seharusnya waktu luang digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti setiap waktu luang digunakan untuk mengkaji pengetahuan, digunakan untuk berdzikir, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat demi kepentingan bersama. Dalam penerapan ilmu bila seseorang mempunyai ilmu maka harus mengamalkan ilmunya kepada orang yang masih kurang pengathuannya maka bila ilmu semakin sering di manfaatkan akan bertambah pula pengetahuan yang di peroleh.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Asqolani Ibnu Hajar, 2006,  Ringkasan Targhib wa Tarhib. Jakarta: pustaka Azam
Asy-Syuhud Syaikh Ali bin Nayif. 2009, Shahih Fadhilah Amal. Solo: PT Aqwam
Fatoni4ever.blogspot.com/2012/02/makalah-kandungan-hadis-tentang.html
http://ahan-kzk.blogspot.com201112materi-pendd-hadits.html
Muhaimin, Qur’an Hadist untuk Kls IX MTs, Bandung: Grafindo media pratama, 2008. Hal:66
Shihab M. Quraish. 2007, Secercah Cahaya Ilahi HIdup bersama Al-Qur’an. Bandung : PT Mizan Putaka.
Wadud  Abdul.,dkk. 2000. Qur’an Hadits Madrasah Tsanawiyah Kelas 3. Semarang:PT.Karya Toha Putra. h. 27

0 comments:

Post a Comment